Selasa, 19 Desember 2017

TRADISI MERETUS




Meretus adalah salah satu tradisi masyarakat suku sasak yang berhubungan dengan spriritual atau keyakinan masyarakat. Meretus ini dilakukan ketika ada seseorang yang tiba-tiba mengalami sakit ringan seperti sakit perut (mencret-mencret), sakit kepala dan demam, muntah-muntah dan penyakit ringan lainnya. Masyarakat sasak berkeyakinan bahwa penyakit itu disebabkan oleh arwah keluarga dekat yang sudah meninggal. Arwah tersebut katanya tidak pernah dido’akan oleh orang yang terkena penyakit tersebut, oleh karenanya masyarakat sasak berkeyakinan bahwa arwah itu marah dan memberinya penyakit. Adapun cara meretus yaitu dengan menarik rambut orang yang sakit sambil dibacakan do’a sampai berbunyi “tok” yang menandakan bahwa ada arwah yang masuk ke tubuh orang yang sakit tersebut. Setelah beberapa menit rasa sakit itupun menghilang begitu saja.

Mengenai kebudayaan ini   sebagian masyarakat menganggap bahwa meretus adalah perbuatan syirik karena semata-mata yang menyembuhkan penyakit itu adalah tradisi meretus tersebut. Pada hakikatnya yang menyembuhkan segala macam penyakit adalah hanya Allah Swt. Mungkin saja ketika melakukan meretus, rasa sakitnya itu kebetulan menghilang.Tetapi sebenarnya ketika masyarakat sasak melakukan tradisi meretus dengan penuh keyakinan, maka penyakit itu kan lansung hilang begitu saja. Ketik seeorang meninggal maka  arwahnya diberi kesempatan untuk kembali ke rumahnya selama hidup di dunia untuk melihat keluarganya. Dan ketika arwah tersebut tidak pernah dido’akan maka arwah itu pun bisa marah sehingga diberilah penyakit. Sebenarnya ketika  orang yang sakit ringan tersebut ditarik beberapa helai rambutnya kemudian ditarik sambil dibacakan do’a dengan penuh keyakinan bahwa penyakit itu bisa sembuh lillahita’ala sehingga ketika rambutnya ditarik dan berbunyi maka energy yang berupa arwah yang ada di dalam tubuh orang yang sakit tersebut seolah-olah keluar berkat do’a dan keyakinan orang yang sudah ahli dalam meretus itu. Masyarakat sasak  tidak pernah sekali pun percaya bahwa keajaiban-keajaiban itu atas kehendak manusia belaka tetapi orang sasak selalu mengaitkan semua tradisi yang dimiliki dengan kepercayaan bahwa segala sesuatunya tidak lain adalah kehendak dari Allah yang Mahakuasa .

44 komentar:

  1. Menarik 😊😊
    Cara pandang kita terhadap suatu tradisi jangan hanya satu arah, tetapi membuka mindset juga perlu.

    BalasHapus
  2. Iya,,kita jg jgn lihat sesuatu itu dari luarx saja, kita harus tahu makna dari tradisi itu gimna

    BalasHapus
  3. Betul sekali. Ketika seseorang berbuat sesuatu dan dengan menyebut nama Allah, maka tidak mungkin hal itu disebut syirik, 'kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya benar..segala yang kita niatkan harus kembali kepada Allah, ya kalau selain kepada-Nya kita niatkan, maka itu dinamakan syrik kan..

      Hapus
  4. Beda yaa sama meretus di desa saya..

    Meretus untuk mencari arwah siapa yg bikin org yang sakit ketemu'( menggetok yang sakit) meretus ini bukan untuk menyembuhkan.

    Semangat menulis nya.. Ada bebubus juga yang menarik untuk diangkat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sipp..terima kasih masukannya jg kk😊

      Hapus
    2. apa itu bebubus kak? saya dak tahu. itu tradisi desa mana?

      Hapus
  5. Tulisan yg menarik
    Smg brmnfaat untuk kita semua...
    Lnjutkn trus nulisnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kak.ini adalah langkah awal untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain yaitu dengan menulis.

      Hapus
  6. Awalnya sy kira tradisi ini masih seperti kepercayaan animisme dan dinamisme. Tpi ternyata walaupun seperti itu masyarakat ttp kembalikan semuanya kepada sang pencipta...
    Mantapppp..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, klau masyarakat sasak menganut kepercayaan animisme atau dinamisme, berarti kami tidak percaya tuhan dong..

      Hapus
  7. Slah satu tradisi yg berhubungan dgn kepercayaan arwah nenek moyang...
    Sngt menambah wawasan...
    Lalu... yg menjadi pertanyaan sya apakah tradisi tsb masih di lakukan apa tidak?? Dan bagaimna cara melestarikannya? Menurut penulis?
    .
    .
    Thankyou

    BalasHapus
    Balasan
    1. khusus di desa masih dilakukan, dan saya juga klau tiba2 merasa sakit, saya di peretus biar rasa sakitnya hilang, dan itu memang benar terjadi.

      Hapus
    2. jika kita benar2 yakin penyakit itu akan sembuh tanpa ada niat lain, dn menganggap bahwa ini tradisi meretus ini adalah perantara kita saja.

      Hapus
  8. Sangat menambah wawasan untuk saya...
    Ttng tradisi suku sasak...
    .
    .
    Dikembangkan lgi mbak...

    BalasHapus
  9. Wow daebak, budaya sasaq memang unik tapi kita sebagai masyarakat sasaq perlu melestarikan dan tetap menjaga kemurnian dari budaya kita ini...Semangatt :)

    BalasHapus
  10. Menarik saudarikuu..
    Berati ini tergantung keyakinan kita buakn??. Apbila kita tidak yakit itu dapat meneymbuhkan, makan kita tidak akan mendapatkan efeknya?? Bukankah begitu saudariku??

    BalasHapus
  11. Balasan
    1. Benar kak,,,coba aja tanya orang tua atau neneknya yg bisa meretus..

      Hapus
  12. Tradisi atau kebiasaan rupanya harus diteliti lebih dalam lagi supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman

    BalasHapus
  13. waaahhh sungguh tradisi yg luar biasa

    BalasHapus
  14. waaahhh sungguh tradisi yg luar biasa

    BalasHapus
  15. waaahhh sungguh tradisi yg luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih..tradisi di Bima juga luar biasa!

      Hapus
  16. sungguh banyak sekali keragaman dan budaya orang sasak tercinta ini, sesuatu yang kelihatannya aneh bagi orang lain tetapi punya makna bagi kita sasak tulen salah satunya, yakni meretus. Tapi apakah semua orang bisa melakukan meretus ini atau hanya orang-orang tertentu seperti dukun etc.?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hanya orang yang benar-benar meyakini dan tahu doa-doa dalm meretus tersebut yang bisa melakukannya,,,

      Hapus
  17. nice article, ditunggu artikel bermanfaat selanjutnya.

    BalasHapus
  18. artikel yang bagus semoga bermanfaat informasinya

    BalasHapus
  19. Postingan yang sangat memberikan inspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih...tunggu postingan selanjutnya ya..

      Hapus
  20. menarik...
    tp apakah budaya ini masih ada hingga sekarang ini??

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah masih,, ada dua desa yang sangat kental dengan tradisi nyesek yaitu di desa Sade dengan desa Sukarare. semoga tradisi menenun ini semakin eksis.

      Hapus
  21. Mantepp...mempertahankan budaya lokal

    BalasHapus

PIAGAM GUMI SASAK: BERJUANG BERSAMA MEMBANGUN PERADABAN

      Piagam gumi sasak adalah sebuah dokumen yang berisi kesepakatan bersama untuk menyambung, menyatukan, dan menegakkan kembali keb...