Meretus adalah salah satu
tradisi masyarakat suku sasak yang berhubungan dengan spriritual atau keyakinan
masyarakat. Meretus ini dilakukan ketika ada seseorang yang tiba-tiba mengalami
sakit ringan seperti sakit perut (mencret-mencret), sakit kepala dan demam,
muntah-muntah dan penyakit ringan lainnya. Masyarakat sasak berkeyakinan bahwa
penyakit itu disebabkan oleh arwah keluarga dekat yang sudah meninggal. Arwah
tersebut katanya tidak pernah dido’akan oleh orang yang terkena penyakit
tersebut, oleh karenanya masyarakat sasak berkeyakinan bahwa arwah itu marah
dan memberinya penyakit. Adapun cara meretus yaitu dengan menarik rambut orang
yang sakit sambil dibacakan do’a sampai berbunyi “tok” yang menandakan bahwa
ada arwah yang masuk ke tubuh orang yang sakit tersebut. Setelah beberapa menit
rasa sakit itupun menghilang begitu saja.
Mengenai kebudayaan ini sebagian masyarakat menganggap bahwa meretus
adalah perbuatan syirik karena semata-mata yang menyembuhkan penyakit itu
adalah tradisi meretus tersebut. Pada hakikatnya yang menyembuhkan segala macam
penyakit adalah hanya Allah Swt. Mungkin saja ketika melakukan meretus, rasa
sakitnya itu kebetulan menghilang.Tetapi sebenarnya ketika masyarakat sasak
melakukan tradisi meretus dengan penuh keyakinan, maka penyakit itu kan lansung
hilang begitu saja. Ketik seeorang meninggal maka arwahnya diberi kesempatan untuk kembali ke
rumahnya selama hidup di dunia untuk melihat keluarganya. Dan ketika arwah
tersebut tidak pernah dido’akan maka arwah itu pun bisa marah sehingga
diberilah penyakit. Sebenarnya ketika orang yang sakit ringan tersebut ditarik
beberapa helai rambutnya kemudian ditarik sambil dibacakan do’a dengan penuh
keyakinan bahwa penyakit itu bisa sembuh lillahita’ala sehingga ketika
rambutnya ditarik dan berbunyi maka energy yang berupa arwah yang ada di dalam
tubuh orang yang sakit tersebut seolah-olah keluar berkat do’a dan keyakinan
orang yang sudah ahli dalam meretus itu. Masyarakat sasak tidak pernah sekali pun percaya bahwa
keajaiban-keajaiban itu atas kehendak manusia belaka tetapi orang sasak selalu
mengaitkan semua tradisi yang dimiliki dengan kepercayaan bahwa segala
sesuatunya tidak lain adalah kehendak dari Allah yang Mahakuasa .
Menarik 😊😊
BalasHapusCara pandang kita terhadap suatu tradisi jangan hanya satu arah, tetapi membuka mindset juga perlu.
iya benar sekali
HapusIya,,kita jg jgn lihat sesuatu itu dari luarx saja, kita harus tahu makna dari tradisi itu gimna
BalasHapusBetul sekali. Ketika seseorang berbuat sesuatu dan dengan menyebut nama Allah, maka tidak mungkin hal itu disebut syirik, 'kan?
BalasHapusiya benar..segala yang kita niatkan harus kembali kepada Allah, ya kalau selain kepada-Nya kita niatkan, maka itu dinamakan syrik kan..
HapusLuar biasa, pertahankan.
BalasHapusOk, terima kasih
HapusBeda yaa sama meretus di desa saya..
BalasHapusMeretus untuk mencari arwah siapa yg bikin org yang sakit ketemu'( menggetok yang sakit) meretus ini bukan untuk menyembuhkan.
Semangat menulis nya.. Ada bebubus juga yang menarik untuk diangkat
Sipp..terima kasih masukannya jg kk😊
Hapusapa itu bebubus kak? saya dak tahu. itu tradisi desa mana?
HapusTulisan yg menarik
BalasHapusSmg brmnfaat untuk kita semua...
Lnjutkn trus nulisnya
terima kasih kak.ini adalah langkah awal untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain yaitu dengan menulis.
HapusAwalnya sy kira tradisi ini masih seperti kepercayaan animisme dan dinamisme. Tpi ternyata walaupun seperti itu masyarakat ttp kembalikan semuanya kepada sang pencipta...
BalasHapusMantapppp..
Iya, klau masyarakat sasak menganut kepercayaan animisme atau dinamisme, berarti kami tidak percaya tuhan dong..
HapusSlah satu tradisi yg berhubungan dgn kepercayaan arwah nenek moyang...
BalasHapusSngt menambah wawasan...
Lalu... yg menjadi pertanyaan sya apakah tradisi tsb masih di lakukan apa tidak?? Dan bagaimna cara melestarikannya? Menurut penulis?
.
.
Thankyou
khusus di desa masih dilakukan, dan saya juga klau tiba2 merasa sakit, saya di peretus biar rasa sakitnya hilang, dan itu memang benar terjadi.
Hapusjika kita benar2 yakin penyakit itu akan sembuh tanpa ada niat lain, dn menganggap bahwa ini tradisi meretus ini adalah perantara kita saja.
HapusSangat menambah wawasan untuk saya...
BalasHapusTtng tradisi suku sasak...
.
.
Dikembangkan lgi mbak...
terima kasih...
HapusMeretus memng budaya yang uniq
BalasHapusiya,,unik banget ya
HapusWow daebak, budaya sasaq memang unik tapi kita sebagai masyarakat sasaq perlu melestarikan dan tetap menjaga kemurnian dari budaya kita ini...Semangatt :)
BalasHapussippp...salam literasi
HapusMenarik saudarikuu..
BalasHapusBerati ini tergantung keyakinan kita buakn??. Apbila kita tidak yakit itu dapat meneymbuhkan, makan kita tidak akan mendapatkan efeknya?? Bukankah begitu saudariku??
Benar gak tu
BalasHapusBenar kak,,,coba aja tanya orang tua atau neneknya yg bisa meretus..
HapusTradisi atau kebiasaan rupanya harus diteliti lebih dalam lagi supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman
BalasHapus👍👍👍
Hapuswaaahhh sungguh tradisi yg luar biasa
BalasHapuswaaahhh sungguh tradisi yg luar biasa
BalasHapuswaaahhh sungguh tradisi yg luar biasa
BalasHapusterima kasih..tradisi di Bima juga luar biasa!
Hapussungguh banyak sekali keragaman dan budaya orang sasak tercinta ini, sesuatu yang kelihatannya aneh bagi orang lain tetapi punya makna bagi kita sasak tulen salah satunya, yakni meretus. Tapi apakah semua orang bisa melakukan meretus ini atau hanya orang-orang tertentu seperti dukun etc.?
BalasHapushanya orang yang benar-benar meyakini dan tahu doa-doa dalm meretus tersebut yang bisa melakukannya,,,
Hapusnice article, ditunggu artikel bermanfaat selanjutnya.
BalasHapusok sippp
Hapusartikel yang bagus semoga bermanfaat informasinya
BalasHapusamin....
HapusPostingan yang sangat memberikan inspirasi
BalasHapusterima kasih...tunggu postingan selanjutnya ya..
Hapusmenarik...
BalasHapustp apakah budaya ini masih ada hingga sekarang ini??
alhamdulillah masih,, ada dua desa yang sangat kental dengan tradisi nyesek yaitu di desa Sade dengan desa Sukarare. semoga tradisi menenun ini semakin eksis.
HapusMantepp...mempertahankan budaya lokal
BalasHapusmari lestarikan budaya Sasak!
Hapus