Desa Sukarare terletak di
Kecamatan Jonggat Lombok Tengah. Desa ini terkenal dengan kerajinan tenun atau
songket khas Lombok. Keunikan dari Desa Sukarare ini adalah tradisi nyesek yang
masih dipegang teguh oleh penduduknya. Nyesek adalah kegiatan menenun dengan
alat tradisional yang sedemikian rupa dan pada saat nyesek mengenakan lambung
yaitu pakaian adat Lombok. Hasil tenunan khas Sukarare adalah
Sarung Songket. Biasanya sarung tersebut digunakan pada saat upacara adat,
seperti pesat besar atau begawe beleq. Tenun merupakan pekerjaan utama bagi
penduduk permpuan desa tersebut selain bertani.
Pada foto tersebut terlihat
seorang ibu-ibu yang sedang nyesek atau nenun dengan alat tradisional dan
wanita tersebut terlihat menggunakan pakaian adat sasak yaitu lambung. Wanita
itu juga terlihat lihai dan teliti dalam menggunakan alat tenun tradisional
tersebut, karena jelas sekali alat tersebut terlihat rumit, terdiri dari
sekitar puluhan bambu yang digunakan untuk membentuk pola kain tenun, dan
benang. Wanita tersebut terlihat seperti dipasung dan diikat kiri kanan, hal
ini bertujuan agar pembentukan pola pada tenunan itu tidak rusak. Jika salah
tekhnik sedikit saja, maka akan berakibat tidak baik pada hasil tenunannya. Di
belakang ibu tersebut, terlihat hasil tenunan yang indah dan polanya juga
bagus. Kain tenun ini dinamakan kain tenun subhanale, karena rupanya yang elok
dan polanya yang rapi membuat tenun ini dinamakan subhanale. Sungguh tradisi
yang menarik dan patut untuk dilestarikan oleh generasi selanjutnya.
Para orang tua di Desa
Sukarare mewariskan nyesek kepada anak gadis mereka mulai sejak usia dini, maka
dengan begitu kelestarian budaya nyesek ini masih eksis sampai sekarang.
Gadis-gadis sukarare harus bisa menenun sebelum menikah. Jika mereka tak
kunjung bisa menenun, maka mereka terancam menjadi perawan tua. itulah sebabnya para gadis Desa Sukarare sudah belajar sejak berumur 9 tahun. sebaliknya para pria Desa Sukarare dilarang nyesek karena ada kepercayaan jika pria menenun maka mereka tidak akan memiliki keturunan alias mandul. inilah kepercayaan masyarakat suku Sasak yang sebenarnya ada tujian tertertu pastinya untuk kebaikan tradisi Sasak itu sendiri.

Sungguh beragam kebudayaan Sasak..
BalasHapusmenarik postinagnya saudariku.
Namun,sedikit pertanyaann.. Kenpaa orang yang menenun harus menggunakan baju lambung?
sebenarnya bukan sebuah keharusan saat menenun memakai lambung, akan tetapi pada saat itu ada wisatawan-wisatawan yang berkunjung ke tempat penenun tersebut, tujuannya memakai lambung adalah lebih memperkenalkan pakaian adat sasak. hanya itu, bukan merupakan sebuah keharusan. terima kasih telah berkunjung ke blog saya..
HapusSangat bermanfaat khususnya bagi orang-orang yang baru ingin berlajar budaya sasak lebih dalam lagi jadi bisa kesana langsung.
BalasHapusiya..kalau kita ingin lebih mengenal tentang budaya sasak, perlu kita mengunjunginya lansung supaya terlihat lebih jelas
HapusCukup bagus ulasan, saran coba diulas tentang bagaimana pembinaan para tukang tenun di daerahmu itu, dampak ekonominya bagaimana, bagaimana keterlibatan pemerintah khususnya Dinas Pariwisata, dengan data-data akurat.Sehingga blog ini bisa menjadi rujukan yang sahih untuk kebutuhan dunia akademik khusus, serta bagi masyarakat secara luas.
BalasHapusterima kasih atas masukannya, dan terima kasih juga telahmengunjungi blog saya, nantikan tulisan berikutnya ya.
HapusLuar biasa. dengan ini masyarakat dapat memiliki penghasilan sendiri dan meningkatakan kreatifitas mereka.
BalasHapusalhamdulillah...tidak hanya sekedar tradisi, tetapi bisa dimanfaatkan juga sebagai mata pencaharian.
HapusWah saya tertarik dengan menenun.
BalasHapusApakah yang boleh menenun di desa Sukarare hanya perempuan di desa Sukarare saja?
siapa saja boleh menenun,,tidak ada batasan untuk melestarikan sebuah tradisi, justru lebih baik, semua masyarakat harus bisa menenun, supaya tradisi nyesek tersebut akan selalu terjaga dan eksis.
Hapusayo..lestarikan budaya!!
Keren👍
BalasHapusSangat bermanfaat😊
this is useful article for sasak culture acknowledge, nice description but one thing u mess up that is how much the price of a songket, because i believe everyone want to buy the most beautiful songket for their souvenir.
BalasHapusbisakah anda menerjemahkan komentar anda? maaf saya tidak terlalu bisa berbahasa inggris.
HapusApakah yg meledtarikan tradisi nyesek tersebut hanya masyarakat di desa sasak saja?
BalasHapusApakah sudah ada filosofinya bhwa laki" yanhlg menenun itu bakalan mandul?
BalasHapussaya kurang tahu masalah filosofinya, tetapi itu masih mitos dengan tujuan mengingatkan kita bahwa seorang lelaki bekerja di sawah, sebagai petani, sebagai buruh..sbenarnya itu maksud mitos tersebut.
Hapusmantap. masih ada yg melestarikan budaya ini.
BalasHapusalhamdulillah..mudah2an tradisi ini tetap dilestarikan. karena budaya nyesek adalah identitas Sasak.
HapusBudaya ini sangat penying untuk di lestarikan agar wanita-wnita generasi selnjutnya memiliki keterampilan, dan kita sebagai wanita penerus setidaknya mengenl budaya ini,
BalasHapusSangat menarik 😊
tidak hanya mengenal, tetapi harus tetap mengenal..
Hapusterima kasih komentarnya..
Informasinya sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang kebudayaan serta tradisi budaya yang ada di lombok
BalasHapusterima kasih..nantikan tulisan berikutnya ya..!
Hapushampir sama dengan tradisi Bima. Semangat terus menyebarkan informasi tentang budaya
BalasHapussemangat..lestarikan budaya!
HapusBudaya seperti ini harus dilestarikan,biar tidak punah. Semangat
BalasHapusAatt 💪🤗
semangat..!!
HapusUlasan yg luar biasa,
BalasHapusMenarik dan layak dikmbangkan sbg potensi daerah
Dari ntb ke indonesiA..
terima kasih..aminn, mudah-mudahan Sasak semakin maju!!
HapusBudaya yang menarik semoga bermanfaat
BalasHapusamin..
HapusSangat unik & menarik, apalg menenun menggunakan alat tradisional. Sungguh budaya yg tak lekang oleh zaman.
BalasHapusmemang budaya yang ada di Lombok semuanya unik-unik.
Hapus