Kamis, 21 Desember 2017

KEARIFAN TRADISI DI SUKARARE



Desa Sukarare terletak di Kecamatan Jonggat Lombok Tengah. Desa ini terkenal dengan kerajinan tenun atau songket khas Lombok. Keunikan dari Desa Sukarare ini adalah tradisi nyesek yang masih dipegang teguh oleh penduduknya. Nyesek adalah kegiatan menenun dengan alat tradisional yang sedemikian rupa dan pada saat nyesek mengenakan lambung yaitu pakaian adat Lombok. Hasil tenunan khas Sukarare adalah Sarung Songket. Biasanya sarung tersebut digunakan pada saat upacara adat, seperti pesat besar atau begawe beleq. Tenun merupakan pekerjaan utama bagi penduduk permpuan desa tersebut selain bertani.


Pada foto tersebut terlihat seorang ibu-ibu yang sedang nyesek atau nenun dengan alat tradisional dan wanita tersebut terlihat menggunakan pakaian adat sasak yaitu lambung. Wanita itu juga terlihat lihai dan teliti dalam menggunakan alat tenun tradisional tersebut, karena jelas sekali alat tersebut terlihat rumit, terdiri dari sekitar puluhan bambu yang digunakan untuk membentuk pola kain tenun, dan benang. Wanita tersebut terlihat seperti dipasung dan diikat kiri kanan, hal ini bertujuan agar pembentukan pola pada tenunan itu tidak rusak. Jika salah tekhnik sedikit saja, maka akan berakibat tidak baik pada hasil tenunannya. Di belakang ibu tersebut, terlihat hasil tenunan yang indah dan polanya juga bagus. Kain tenun ini dinamakan kain tenun subhanale, karena rupanya yang elok dan polanya yang rapi membuat tenun ini dinamakan subhanale. Sungguh tradisi yang menarik dan patut untuk dilestarikan oleh generasi selanjutnya.

Para orang tua di Desa Sukarare mewariskan nyesek kepada anak gadis mereka mulai sejak usia dini, maka dengan begitu kelestarian budaya nyesek ini masih eksis sampai sekarang. Gadis-gadis sukarare harus bisa menenun sebelum menikah. Jika mereka tak kunjung bisa menenun, maka mereka terancam menjadi perawan tua. itulah sebabnya para gadis Desa Sukarare sudah belajar sejak berumur 9 tahun. sebaliknya para pria Desa Sukarare dilarang nyesek karena ada kepercayaan jika pria menenun maka mereka tidak akan memiliki keturunan alias mandul. inilah kepercayaan masyarakat suku Sasak yang sebenarnya ada tujian tertertu pastinya untuk kebaikan tradisi Sasak itu sendiri.
 

32 komentar:

  1. Sungguh beragam kebudayaan Sasak..
    menarik postinagnya saudariku.
    Namun,sedikit pertanyaann.. Kenpaa orang yang menenun harus menggunakan baju lambung?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya bukan sebuah keharusan saat menenun memakai lambung, akan tetapi pada saat itu ada wisatawan-wisatawan yang berkunjung ke tempat penenun tersebut, tujuannya memakai lambung adalah lebih memperkenalkan pakaian adat sasak. hanya itu, bukan merupakan sebuah keharusan. terima kasih telah berkunjung ke blog saya..

      Hapus
  2. Sangat bermanfaat khususnya bagi orang-orang yang baru ingin berlajar budaya sasak lebih dalam lagi jadi bisa kesana langsung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya..kalau kita ingin lebih mengenal tentang budaya sasak, perlu kita mengunjunginya lansung supaya terlihat lebih jelas

      Hapus
  3. Cukup bagus ulasan, saran coba diulas tentang bagaimana pembinaan para tukang tenun di daerahmu itu, dampak ekonominya bagaimana, bagaimana keterlibatan pemerintah khususnya Dinas Pariwisata, dengan data-data akurat.Sehingga blog ini bisa menjadi rujukan yang sahih untuk kebutuhan dunia akademik khusus, serta bagi masyarakat secara luas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas masukannya, dan terima kasih juga telahmengunjungi blog saya, nantikan tulisan berikutnya ya.

      Hapus
  4. Luar biasa. dengan ini masyarakat dapat memiliki penghasilan sendiri dan meningkatakan kreatifitas mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah...tidak hanya sekedar tradisi, tetapi bisa dimanfaatkan juga sebagai mata pencaharian.

      Hapus
  5. Wah saya tertarik dengan menenun.
    Apakah yang boleh menenun di desa Sukarare hanya perempuan di desa Sukarare saja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapa saja boleh menenun,,tidak ada batasan untuk melestarikan sebuah tradisi, justru lebih baik, semua masyarakat harus bisa menenun, supaya tradisi nyesek tersebut akan selalu terjaga dan eksis.
      ayo..lestarikan budaya!!

      Hapus
  6. Keren👍
    Sangat bermanfaat😊

    BalasHapus
  7. this is useful article for sasak culture acknowledge, nice description but one thing u mess up that is how much the price of a songket, because i believe everyone want to buy the most beautiful songket for their souvenir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisakah anda menerjemahkan komentar anda? maaf saya tidak terlalu bisa berbahasa inggris.

      Hapus
  8. Apakah yg meledtarikan tradisi nyesek tersebut hanya masyarakat di desa sasak saja?

    BalasHapus
  9. Apakah sudah ada filosofinya bhwa laki" yanhlg menenun itu bakalan mandul?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya kurang tahu masalah filosofinya, tetapi itu masih mitos dengan tujuan mengingatkan kita bahwa seorang lelaki bekerja di sawah, sebagai petani, sebagai buruh..sbenarnya itu maksud mitos tersebut.

      Hapus
  10. mantap. masih ada yg melestarikan budaya ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah..mudah2an tradisi ini tetap dilestarikan. karena budaya nyesek adalah identitas Sasak.

      Hapus
  11. Budaya ini sangat penying untuk di lestarikan agar wanita-wnita generasi selnjutnya memiliki keterampilan, dan kita sebagai wanita penerus setidaknya mengenl budaya ini,
    Sangat menarik 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak hanya mengenal, tetapi harus tetap mengenal..
      terima kasih komentarnya..

      Hapus
  12. Informasinya sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang kebudayaan serta tradisi budaya yang ada di lombok

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih..nantikan tulisan berikutnya ya..!

      Hapus
  13. hampir sama dengan tradisi Bima. Semangat terus menyebarkan informasi tentang budaya

    BalasHapus
  14. Budaya seperti ini harus dilestarikan,biar tidak punah. Semangat
    Aatt 💪🤗

    BalasHapus
  15. Ulasan yg luar biasa,
    Menarik dan layak dikmbangkan sbg potensi daerah
    Dari ntb ke indonesiA..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih..aminn, mudah-mudahan Sasak semakin maju!!

      Hapus
  16. Budaya yang menarik semoga bermanfaat

    BalasHapus
  17. Sangat unik & menarik, apalg menenun menggunakan alat tradisional. Sungguh budaya yg tak lekang oleh zaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang budaya yang ada di Lombok semuanya unik-unik.

      Hapus

PIAGAM GUMI SASAK: BERJUANG BERSAMA MEMBANGUN PERADABAN

      Piagam gumi sasak adalah sebuah dokumen yang berisi kesepakatan bersama untuk menyambung, menyatukan, dan menegakkan kembali keb...